Dinamika Komunikasi Politik Lokal di Riau

Dinamika Komunikasi Politik Lokal di Riau

Kategori
Komunikasi
Penerbit
UmriPress
ISBN
0
Halaman
72 hal
Terbit
08 Mar 2026
Dimensi
15.5 x 23 cm
Stok
0
Format tersedia
Hardcopy

KATA KUNCI

Komunikasi politik, demokrasi digital, media sosial, kecerdasan buatan, literasi digital.

Coming Soon

Buku sedang dalam persiapan. Pantau terus untuk info rilis!

Dalam sebuah sistem demokrasi, komunikasi politik bukan sekadar penyampaian informasi dari pemerintah ke rakyat. Ia adalah sebuah ekosistem yang dinamis, di mana kekuasaan dibentuk, dipertahankan, dan digugat melalui pertukaran pesan. Dinamika ini terus berevolusi seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku sosial masyarakat.Dinamika komunikasi politik adalah cermin dari kedewasaan sebuah bangsa. Di satu sisi, teknologi memberikan ruang partisipasi yang luas bagi rakyat. Di sisi lain, ia menuntut tanggung jawab besar bagi komunikator politik untuk tetap mengedepankan etika dan kejujuran di atas sekadar perolehan suara atau popularitas.

Dahulu, komunikasi politik bersifat top-down (dari atas ke bawah). Para pemimpin berbicara melalui corong media massa tradisional seperti TV dan koran, sementara masyarakat menjadi audiens pasif.Namun, memasuki tahun 2026, dinamika ini telah berubah menjadi multiarah. Kehadiran platform digital memungkinkan warga negara untuk merespons kebijakan secara real-time. Seorang menteri yang mengunggah kebijakan baru di media sosial bisa langsung mendapatkan ribuan komentar—baik dukungan maupun kritik—dalam hitungan menit. Inilah yang disebut dengan demokratisasi informasi, di mana suara publik memiliki kekuatan yang hampir setara dengan pernyataan resmi negara.

Dinamika saat ini sangat menekankan pada aspek personalisasi. Pemilih cenderung tidak lagi melihat ideologi partai secara kaku, melainkan lebih tertarik pada karakter dan "authenticity" (keaslian) seorang kandidat.Para aktor politik kini berperan layaknya content creator. Mereka membangun narasi keseharian untuk menyentuh sisi emosional pemilih. Namun, sisi negatifnya, hal ini sering kali memicu politik identitas. Komunikasi yang hanya menyasar sentimen kelompok tertentu dapat memperlebar jurang polarisasi di tengah masyarakat.

Salah satu dinamika paling krusial di era digital adalah peran algoritma media sosial. Algoritma cenderung menyajikan informasi yang sesuai dengan preferensi pengguna. Hal ini menciptakan Echo Chambers (ruang gema), di mana seseorang hanya mendengar pendapat yang setuju dengan dirinya.Dampaknya, masyarakat sulit menerima perspektif berbeda.Risikonya, munculnya fanatisme buta yang menghambat dialog sehat antar warga negara.

Di tahun 2026, tantangan komunikasi politik bertambah dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI). Penggunaan deepfake(video/suara manipulasi) menjadi ancaman nyata bagi kejujuran informasi. Dinamika komunikasi kini juga mencakup upaya literasi digital dan cek fakta sebagai benteng pertahanan terhadap hoaks yang dapat memicu ketidakstabilan nasional.***


Kata Pengantar v

Daftar Isi vii

Prolog Dinamika Komunikasi Politik; Antara Citra, Algoritma, dan Partisipasi Publik 1

Bab 1 Komunikasi Politik Lokal di Riau: Antara Tradisi Melayu dan Era Digital 5

Bab 2 Menjaga "Marwah" di Tengah Arus Digitalisasi Politik Riau 8

2.1. Hegemoni "Politik Konten" 8

2.2. Simbolisme yang Tak Boleh Hilang 10

Bab 3 Menyoal Quick Count (Antara Kejujuran dan Kecurangan) 12

Bab 4 Memilih Capres Dari Perspektif Komunikasi Islam 18

Bab 5 Hedonisme: Aristippos vs Epikuros 24

Bab 6 Dibalik Covid 19; Antara Kesombongan Dan Konspirasi 29

Bab 7 Evasi Komunikasi Dibalik Penanganan Covid 19 36

Bab 8 Hukum Mati Koruptor! 40

Bab 9 Kepala Daerah Baru, Harapan Baru 43

Bab 10 Potret Pembangunan di Riau Perspektif Paradigma Kritis 48

Bab 11 Menatap Riau 2026; Investasi Pada "Otak" Bukan Hanya Tanah 51

EPILOG Menenun Kembali Marwah dalam Arus Digital di Bumi Lancang Kuning 54


Al-Anshari, M. (2018). Etika Komunikasi Politik dalam Islam: Mengawal Demokrasi yang Berkeadaban. Jurnal Komunikasi Islam (JKI), 8(1), 22-41.

Annas, J. (1993). The Morality of Happiness. Oxford University Press. (Sangat baik untuk membandingkan etika kuno).

Anshari, S. (2019). Komunikasi Politik di Era Digital: Korosifitas Informasi dan Quick Count Pemilu. Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Politik, 6(1), 45-58.

Asrinaldi. (2014). Politik Lokal di Indonesia: Dinamika dan Perkembangannya. Jakarta: Rajawali Pers.

Epicurus. (2012). The Art of Happiness. (Terjemahan & Pengantar oleh George K. Strodach). Penguin Classics.

Eriyanto. (2007). Metodologi Polling: Prinsip-Prinsip Dasar Jajak Pendapat, Eksit Pol, dan Hitung Cepat. Jakarta: LKiS.

Gayo, A. (2014). Legalitas Lembaga Survei dan Quick Count dalam Pemilihan Umum menurut Hukum Positif. Jurnal Yuridis, 1(2), 185-198.

Kurnia, R. (2020). Konstruksi Identitas Melayu dalam Panggung Politik Lokal di Riau. Jurnal Kajian Politik Kultural, 5(2), 120-135.

Muis, A. (2001). Komunikasi Islam. Jakarta: Remaja Rosdakarya.

O’Keefe, T. (2010). Epicureanism. University of California Press.

Putra, A. (2020). Menyoal Independensi Lembaga Survei dalam Kontestasi Pemilu di Indonesia. Jurnal Tata Negara Kontemporer, 3(3), 210-225.

Russell, Bertrand. (1946). History of Western Philosophy. London: George Allen & Unwin. (Bab mengenai Aristippos/Cyrenaics dan Epicurus).

Sharples, R. W. (1996). Stoics, Epicureans and Sceptics: An Introduction to Hellenistic Philosophy. Routledge.

Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an. Jakarta: Lentera Hati (Khususnya kajian QS. Al-Hujurat: 6 tentang Tabayyun dan ayat-ayat tentang Qaulan).

Syam, F. (2010). Pemikiran Politik Islam: Sejarah, Teori, dan Praktik. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Komentar

Tulis Komentar

Komentar akan ditampilkan setelah disetujui admin

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!